بسم الله
الرّ حمن الرّ حيم
Sujud Kuntum-Kuntum Cinta
Oleh
: Naerra Syaikhu
─────▄█▀█▄──▄███▄
────▐█░██████████▌
─────██▒█████████
──────▀████████▀
─────────▀██▀♥
────▐█░██████████▌
─────██▒█████████
──────▀████████▀
─────────▀██▀♥
Siluet senja di penghujung Sya’ban
berdzikir mesra kembali pulang ke kaki langit. Senandungkan syukur akan Ramadhan
yang sudah mengucapkan salam di ambang gerbang. Senja hari ini berbeda dengan
senja-senja sebelumnya. Dzikirannya terasa lebih khusyu mengagungkan asma
Rabb-ku. Indahnya... tiap hitungan detik menuju Ramadhan, seakan menunggu
seorang hati yang datang dengan tahfiz surat Yusuf-nya menemui
ayah. Hehe... lebay!
Adikku ribut, mempersiapkan baju koko
dan sarung. Ia begitu antusias menyambut sang Ramadhan datang. Ini Ramadhan
pertama yang _katanya_ ia berniat puasa full. Ia menyerbu ke arahku.
Memintaku bersegera dan bergegas. Duh... ada yang mengusik hatiku! Duh...
mungkin lahir dan ragaku telah siap menyambut datangnya sang Ramadhan. Ya...
sangat siap. Namun bagimana dengan hatiku? Akankah Ramadhan ini aku menjadi
lebih baik? Atau aku berusaha menjadi lebih bak hanya saat Ramadhan saja? Ah...
sungguh tak adil rasanya.
Adzan Maghrib berkumandang gagah
membuyarkan lamunanku, menggetarkan hatiku. Senja bertilawahkan cinta kini
makin indah berhias rintik mutiara-mutiara bening dari langit, gerimis senja. Subhanallah...
cuaca sekarang cepat sekali berubah, berubah drastis. Seperti hati manusia!
Aku, Walid, ayah dan ummi
beranjak ke mushola komplek diiringi mesranya rintik gerimis senja.
Terawih pertama di Ramadhan ini, membuatku merasakan kecintaan-Nya pada
hamba-hamba-Nya makin mendalam. Pintu-pintu langit kian lebar Dia bentangkan.
Arakan malaikat-malaikat turun ke bumi, menyampaikan salam dan cinta Rabb-ku
pada hamba-hamba-Nya yang tengah belajar istiqomah untuk khusyu dan berikhtiar
memenangkan hikmah.
Seusai berjamaah Maghrib, Walid
sempat hendak menyetorkan tahfiz Qur’an-nya padaku. Ayah menggelar
karpet di teras-teras mushola dan ummi tengah asyik dalam munajah
dan itikaf-nya. Deg! Ada getaran hebat merambat pada dinding-dinding
sanubariku, ketika sebuah suara lirih mengawali tilawah-nya dengan ta’awuz.
MasyaAllah... merdunya! Menenangkan syaraf-syarafku. Hmm...
sepertinya suara itu milik Raka, anak Pak Haji Ramli, imam mushola ini.
Aku biasa memanggilnya Bang Raka.
Dia merupakan guru mengajiku, dulu saat aku masih SMP. Usia kami terpaut lima
tahun. Ah... cepatnya waktu berlalu dan berkayuh. Dulu kami sempat begitu
akrab, hampir seperti kakak dan adik. Namun lihatlah! Kini kami terjaga oleh
pagar hijab dan rasa malu. Terlebih tiga tahun sudah dia nyantri di
Ponorogo. Aura mujahid-nya menyeruak, membius setiap mata dan hati yang
melihatnya! Bahkan hanya sekedar mendengar suaranya!
“Ka Faaaah... Ka Ifaaah...
Astagfirullah! Ka Syarifah al Khumairaaaaah...!” Walid berbisik ah
bukan! Tepatnya setengah berteriak tepat pada telingaku. Aww... Walid
mencubit lenganku. Nyeri banget!
“Kakak... kakak kenapa sih? Dede-kan
mau setoran hafalan dede kaaak... kakaknya kok enggak perhatiin dede? Huh!
Kakak maaah, dede dikacangin! dede mau bantu ayah aja deh! Setorannya nanti aja
sama Bang Raka, kan tadi Bang Raka udah pulang tau kak!” Walid menyemprotku
yang kemudian segera berlari menuju ayah sebelum tanganku berhasil menjewer
telinganya.
Duh... Rabb-ku... hanya
karena tilawah-nya Bang Raka, porak-poranda konsentrasiku.
Kekhusyuanku jadi amburadul seketika! Astagfirullah...
♥ ♥
♥
Adzan Isya berkumandang, memanggil
jiwa-jiwa pedamba cinta Rabb-ku untuk bemesraan dengan-Nya dalam sujud, dalam
khusyu tiap-tiap rakaat-nya. Taukah kalian siapa muadzin-nya? Ya!
Dia! Bang Raka. Ini pertama kalinya ku kembali mendengarnya mengkumandankan
adzan setelah tiga tahun silam. Tapi sayang... kini dan dulu tak lagi sama.
Jauh berbeda! Bang Raka duh Bang Raka... ah sudahlah! Mungkin ini
yang namanya takdir dan kenyataan.
Semerbak Ramadhan hari pertama
begitu kental ku kecap. Mushola ini penuh dengan jamaah hingga ke
teras-terasnya. Diimami Pak Haji Ramli, kamipun Shalat Isya dan Terawih.
Berkali-kali ku usap air mataku di tiap rakaatnya. Syukurku, bahagiaku hari ini
ku dimanjakan-Nya dalam bulan penuh berkah dan cinta, Ramadhan.
Kembali ku terusik, bilamana ini
Ramadhan terakhirku? Atau Ramadhan kelak hidupku yang telah berakhir? Sungguh...
bukan kematian yang ku takutkan. Hanya saja aku khawatirku dengan kuntum-kuntum
cintaku, belum mekar utuh sempurna untukNya, belum mampu kokoh berlandas
karenaNya.
Selekas Terawih, aku memuroja’ah tahsin dan tahfiz
anak-anak komplek di musolah ini. Di bulan-bulan biasa pengajian ini dimulai ba’da
Ashar atau Maghrib. Lebih dari lima belas anak beragam usia mengikuti pengajian
ini. Di sela-sela menyimak setoran hafalan anak-anak, ku mendengar suara yang
sama kembali memulai tilawah. Ah... lagi-lagi hatiku bergetar, gemetar.
Sungguh... hanya tahfiz dan tilawahnya-lah yang membuatku
terkagum-kagum.
♥ ♥
♥
Jam telah menunjukan pukul setengah
sepuluh malam, rintik gerimis masih enggan beranjak. Ayah telah usai merapikan
karpet dan menghitung uang amal hari ini. Beliau adalah bendahara di musolah
ini. Ya... walau ummi awalnya melarang, namun ayah mampu
menyakinkannya bahwa amanah adalah tanggung jawab dan dengan menjaga amanah
akan membuat semakin mendekatkan diri juga sebagai media guna belajar bersyukur
pada Allah.
Ketika kami hendak beranjak pulang,
seseorang mendekat dan menghampiri kami. Dia segera takzim ke ayah dan ummi.
Deg! Itu Bang Raka!
Ah... dia memang telah
berubah. Akhlaknya, penampilannya bahkan statusnya! Kini telah jauh berbeda.
Bang Raka melihat ke arahku, ia takzim mengangguk dan memamerkan sebuah
senyum simpul.
“MasyaAllah... sekarang Syarifah yang membina pengajian
di sini? Padahal rasanya baru kemarin Syarifah setor hafalannya ke saya.
Syarifah sekarang sibuk apa?” tanyanya padaku.
Aku gelagapan! Suaranya ituloh! Tak
hanya mengingatkanku pada Bilal bin Rabbah namun juga Nabi Daud. Suara yang
begitu menetralkan gundahku. Tenang. Mengalir. Tunggu... kalian jangan salah
paham! Sekali lagi ku yakinkan, ku hanya terpesona dengan suara adzan, tilawah
dan tahfiznya. Ya, memang harus ku akui juga pada akhlak dan
pribadinya. Hanya terpesona, kagum. Sekedar. Tak lebih. Sungguh. Dan terlebih
ku menyadari keadaannya saat ini.
“Alhamdulillah. Fah kuliah, sudah
semester empat. Jauziyyah abang ndak Shalat Terawih?” tanyaku, ah...
ketika ku ingat statusnya kini, ada sesuatu yang melanda hatiku. Entahlah...
apakah itu. Parau suaraku ketika ku memanggilnya dengan sebutan ‘abang’.
“Safira tengah enggak enak badan.
Sejak pagi mual-mual terus”, jawabnya.
Tiba-tiba ayah menyeletuk, “Tampaknya
kau akan segera menjadi ayah, MasyaAllah!”
Mendengar perkataan ayah, Bang Raka
tersenyum seraya mengangguk dan lirih berucap syukur. Aku hanya bisa terdiam.
Walid angkat suara, “Bang Raka tadi
ngajinya khusyu banget ya! Padahal tadi dede mau setoran hafalan dede ke abang
aja. Kak Fah tadi...” oceh Walid yang tak tuntas karena ku serobot. “Ayah...
Bang Raka... Ummi, Fah sama Walid pamit pulang duluan ya. Sudah larut dan
sebentar lagi sahur! Hehehe... dan kamu jelek... ayo ikut kakak pulang!” canda
sekaligus pamitku dan kemudian menarik Walid pulang sebelum lebih banyak
kata-kata yang keluar dari mulutnya. Duh... punya adik satu aja udah
bikin naik darah setiap hari!
Kuntum-kuntum mawar di halaman depan
rumahku tersenyum. Bersyukur karena diwudhu-kanNya dengan gemercik
gerimis. Aku membuatkan teh hangat untuk ummi dan Walid. Belum sempat
kami sentuh teh itu, ayah datang diikuti dua orang laki-laki yang sama sekali
tak ku kenal. Rona wajah ayah berubah. Duh... siapa mereka? Mengapa
mereka bertamu malam-malam seperti ini? Jikalau itu tamu ayah, mengapa wajah
ayah terlihat begitu serius? Ada apa ini? Duh... tiba-tiba hatiku jdag-jdug
tak karuan!
Walid kembali mencubit lenganku,
tepat di tempat yang sama tadi dia mencubitku! Pasti biru nih besok, astagfirullah
anak satu itu... ia mendekatiku dan berbisik, “Kak Fah... itukan abang yang suka nanyain kabar kakak ke dede.
Itu pacar kakak ya?”. Aku melotot ke arahnya. Ia terdiam. Tanpa kusuruh ia pun
masuk ke kamarnya beriring tawa kecil meledekku.
Ayah dan kedua tamunya pun masuk.
Aku beranjak ke dapur untuk membuat suguhan. Setelah selesai, aku hendak
bergegas ke kamarku namun ayah mencegahku dan memintaku untuk ikut bergabung.
Orang yang dimaksud Walid tadi menyapaku, “Sehat dik?”.
Aku tersenyum simpul dan mengangguk.
“Alhamdulillah” jawabku sekenanya. Takzim. Orang itu tersenyum, lirih ku
dengar dia berucap syukur.
Tamu yang berusia lebih tua angkat
bicara. Mimik mukanya begitu serius, namun bertabur kelembutan luar biasa.
“Ustad Rahman dan keluarga, sebelumnya
kami meminta maaf. Kedatangan kami begitu tiba-tiba dan mungkin di saat yang
tidak tepat. Begini, maksud kedatangan saya dan murid saya _Faisal_ di malam
pertama Ramadhan ini ingin
mengutarakan niatan Faisal untuk berta’aruf dan mengkhitbah puteri ustad,
Syarifah!” Tanpa basa-basi beliau langsung to the point.
Deg! Hampir pingsan
aku dibuatnya! Jantungku hampir copot dan loncat keluar! Gimana ndak
coba, aku sama sekali ndak mengenalnya! Rasanya pun ku sama sekali belum
pernah melihat atau bertemu langsung dengannya! Tapi dengan beraninya ia
tiba-tiba datang dan memintaku langsung pada ayah. Ruangan ini hening sesaat.
Ayah dan ummi belum merespon apa-apa.
“Dik... perkenalkan, saya Faisal Ahmad. Saya ngekost di
komplek belakang. Begini dik, saya tau
adik dari Bang Raka. Dulu beliau salah satu senior saya di lembaga
dakwah kampus saya. Beliau mengatakan bahwa adik sangatlah istimewa. Saya pun
penasaran, maka saya berusaha mencari tau lebih banyak tentang adik. Dan
MasyaAllah... saya menjadi yakin bahwa yang dikatakan Bang Raka adalah benar.
Adik memang sederhana namun begitu istimewa. Begitu berbeda. Oleh karena itu
saya telah memberanikan diri dan membulatkan niat saya untuk meminta adik pada
ayah adik. Saya bermaksud di bulan Ramadhan ini untuk berta’aruf dengan adik.
InsyaAllah bila Allah meridhai dan orang tua adik merestui, setelah lebaran
nanti saya akan mengkhitbah adik!”
Nafasku naik turun. Aku masih tak
percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Tak terasa, ada rintik gerimis hangat
yang keluar dari kedua sudut mataku. Aku... aku... aku begitu... aku begitu
merasa malu dengan Rabb-ku. Ternyata aku bukanlah penjaga yang baik bagi diri
ini sendiri. Ternyata meski ku telah berusaha menjaga hijab, izzah
dan iffahku, namun aku masih saja bisa kecolongan. Oh... memang,
sungguh ku akui jiwa kesatrianya, dengan berani ia datang menemui ayah guna
memintaku secara langsung. Namun hatiku tak terima. Sesak. Ia begitu
menjatuhkanku! Lancangnya ia memata-mataiku, mengawasiku diam-diam!
“Dik, saya di Jakarta ini hanya
tinggal seorang diri, keluarga saya tinggal di Cilacap. Saya kuliah di
universitas yang sama dengan adik. Saya tengah melanjutkan jenjang s2 prodi
kedokteran spesialis penyakit dalam atau internis. Usia saya dua puluh lima.
Saya sungguh mengagumi adik. Kesederhanaan pribadi adik, lemah lembut akhlak
adik, kemadirian adik dan kesabaran adik saat mengajar di mushola. Intinya
saya bersedia menerima adik dengan apa adanya. Saya bersedia menerima
kekurangan dan kelebihan adik!” tegasnya melanjutkan. Gerimis yang kian
menderas tak mampu menyamarkan air mataku.
Aku tak mampu menahannya lagi,
sesak! “Assalamualaikum!” seruku yang kemudian berlari masuk ke kamar.
♥ ♥
♥
Malam kian pekat mengenakan
cadarnya. Ayah memasuki kamarku, ada goresan kecewa yang tercoreh di wajah
beliau. “Fah... kenapa tadi kamu bersikap seperti itu nak? Ayah tak pernah
mendidik atau mengajarimu seperti itu. Semarah apapun engkau nak, sopan santun
dan lemah lembut tetap harus menjadi mahkota akhlakmu nak!”
“Ayah... dia begitu lancangnya
memata-matai dan menyelidiki Fah yang sama sekali tak dikenalnya. Dia membuat
Fah merasa ikhtiar yang telah Fah bangun untuk menjaga hijab, aurat yang Fah
usahakan tutup rapat-rapat adalah sia-sia belaka, yah...” lirihku
meletup-letup.
“Ayah mengerti kekesalanmu nak.
Namun tetap, bagaimanapun menghormati tamu adalah kewajiban. Jujur, malahan
ayah kagum dengan keberaniannya. Menemui ayah langsung guna memintamu secara
halal. MasyaAllah... Aisyah kecil ayah, puteri kesayangan ayah kini telah
dewasa!” Ayah malah senyum-senyum meledekku.
“Ah ayah...” aku merajuk.
Ayah
mendekat ke arahku, beliau mengelus lembut kepalaku. “Syarifah al Khumairah,
Aisyah kesayangan ayah, dengar ayah baik-baik, Nak! Jangan egois. Jangan
terlalu angkuh. Hargai niat baik dan keberanian Nak Faisal. Minimal kamu
musyawarahkan dengan Allah terlebih dahulu melalui istikharahmu. Dan bila
engkau tak bersedia menerimanya, maka tolaklah dengan cara yang baik, tak perlu
putusnya tali silahturahmi. Sebelum Nak Faisal pergi, tadi ia menitipkan
ini...” kata ayah sambil menyerahkan sebuah amplop putih lembut bertulis,
‘Proposal Cintaku’.
Ayah
bangkit dan menuju arah pintu. “Nak... ayah menyerahkan keputusan sepenuhnya
padamu. Nak Faisal anak yang baik. Ia seorang dokter lulusan mahad yang hafiz Quran
loh!” lanjut beliau, tersenyum dan berlalu dari kamarku.
Duh... pasti malam
ini aku ndak bisa tidur! Oh... Rabb-ku...
♥ ♥
♥
Ku amati sejenak amplop putih lembut
itu. Ah... entah mengapa ku enggan membukanya sekarang. Malam kian
khusyu bertasbih, gulitanya menyimpan sejuta misteri. Aku menatap ke cermin,
ada pantulan bayangan yang begitu hina di sana. Ya... cinta fana di
malam pertama Ramadhan mengganggu kekhusyuan yang coba dibangunnya. Aku lelah.
Ku lepaskan jilbabku dan berwudhu.
Beberapa saat setelah ku nikmati
sujud dan shalatku, ku hendak menetralkan gundahku dengan ayat-ayat cinta
Rabbku. Namun ada suara ketukan pada pintu kamarku yang perlahan terbuka. “Kak Fah...
Dede enggak bisa tidur...” Walid memamerkan senyumannya dari balik pintu dan
kemudian masuk ke kamarku.
“Kak... kata ayah, abang yang tadi
itu dokter ya? Dia ngapain ke sini kak? Kakak sakit lagi ya?” Walid
menghujamiku dengan rentetan pertanyaan.
Aku menghela napas, “Abang dokter
tadi mau nyunatin dede!” jawabku asal. Mendengar perkataanku, wajah Walid
memucat. Dia terdiam.
“Kakak... dede kan masih empat
tahun! Masa udah mau disunat?” lirihnya kemudian.
“Woooo... dede wooo... bilang aja dede takut! Udah tidur sana geh
Lid! Kesiangan loh nanti sahurnya!”
“Ummiiiiii... Kak Fah jahat nih mi!
Dedenya di-buly mulu!” teriaknya yang kemudian beranjak keluar dari kamarku. Hah?
Apa tadi katanya? Buly? Astagfirullah anak satu itu, kemakan
sinetron jaman sekarang.
♥ ♥
♥
Sepertiga akhir malam, waktu
istimewa yang diberikan oleh Sang Maha istimewa untuk insan-insan yang tengah
belajar berusaha menjadi istimewa. Tidurku yang tak lelap, membuatku sedikit
pening. Namun tak sedikitpun mengurangi dasyatnya nikmat bermanja dalam
munajah, bermuswarah dalam istikharah, aliran doa dan tilawah yang menyejukan
dada. Seusai bersantap sahur, ku sempatkan berbincang dulu dengan Rabb-ku. Dua
rakaat yang menenangkanku, dua rakaat yang netralkan gundahku.
Ku amati kembali amplop putih lembut
itu, ‘Proposal Cintaku’. Perlahan ku robek amplop itu, aku mengambil napas
dalam-dalam, Bimillah. Ada sebuah surat sekitar dua lembar panjangnya
dan sebuah foto di dalamnya.
“Innahu min Sulaiman wa innahu
bismillahirrahmanirrahiim...” dia mengawali surat itu, oh... sama
seperti awal surat yang ditulis Nabi Sulaiman untuk Ratu Bilqis.
“Assalamualaikum Warahmatullah.
Salam terangkai doa istimewa ku titipkan pada bahu angin untukmu, sekeping hati
yang istimewa. Maaf, kedatanganku dengan selempang niat sederhana terlalu
tiba-tiba dan mungkin di saat yang tak tepat. Dan maaf atas kelancanganku
mengajakmu berjihad bersama di bumi cinta meski kau sama sekali tak mengenalku
sebelumnya.” Bait pertama. Hatiku tak bergeming, sama sekali tak ada getaran di
sana.
“Sebelum ku mengetahui tentangmu
dari Bang Raka, aku telah mengagumi pribadimu. Sungguh. Ingatkah engkau di saat
engkau dirawat inap beberapa minggu lalu? Jujur... itulah saat pertama sebuah
kekaguman menyusup dan berhasil menyelubungi hati dan otakku. Rasa tulusmu,
cintamu pada Rabb-mu dan kekhusyuanmu begitu luar biasa hingga meski darah
telah bercecer ke seprai dan lantai, namun engkau masih tetap khusyu dalam
shalatmu. Aku dokter yang dulu merawatmu.” Bait selanjutnya yang membuatku
nyinyir, ternyata... nah! Aku ingat! Sebulan yang lalu aku memang
dirawat inap di rumah sakit karena typus. Waktu itu infusku sempat
terlepas dalam keadaan aku shalat. Aku tak menyadarinya, aku tetap dalam
shalatku. Dan seusai salam, ku baru menyadari sebagian seprai sudah berganti
warna menjadi merah. Darahku berceceran ke mana-mana. Duh... sesederhana
itukah alasan kedatangannya malam ini? Sesederhana itukah alasannya berani
memintaku pada ayah dan Allah?
♥ ♥
♥
Di persimpangan aku berada. Ada tiga
jalan yang terbentang, dan masing-masing ujung jalan itu berdiri seseorang.
Dokter muda itu, Bang Raka dan seorang lagi aku tak jelas melihatnya. Kami
saling diam. Masing-masing dari mereka membawa sekuntum mawar yang nyaris
mekar. Bang Raka dan dokter muda itu membawa sekuntum mawar merah. Hanya sosok
yang samar terlihat yang membawa sekuntum mawar putih. Mereka juga menilawahkan
ayat yang sama, ‘...yaa abatu inna ra aitu ahada kaukabauw wasy syamsa wal
qamara ra aituhum lii sajidin...”. Bang Raka berhenti bertilawah, ia menuju
ke arahku. Tapi ia terus berjalan melewatiku! Tepat di belakangku Bang Raka
menyerahkan sekuntum mawar itu ke seseorang berjilbab biru, ku tebak ia adalah
Safira. Mereka berlalu. Pergi tanpa menghiraukanku! Sama sekali ndak!
Sedikitpun!
Aku terpaku melihat Bang Raka
berlalu. Dokter muda dan seseorang yang tak jelas itu kembali melanjutkan
tilawah mereka. Hmm! Surat Yusuf.
Surat yang ku pinta sebagai mahar untuk entah siapapun kelak yang kan
menjadi imamku.
Namun tiba-tiba, “H-a, ha. T-i,ti.
Hati. I, n-i, ni. Ini. Hati ini...” Tilawah surat Yusuf berganti menjadi suara
Walid yang tengah berusaha mengeja ‘proposal cintaku’ dari Dokter Faisal. Aku
terbangun. Kaget. Segera ku rebut ‘proposal cintaku’ itu dari tangannya.
“Cie kakak... itu surat cinta dari
Abang Dokter ya? Wah... kode tuh kode! Hahaha ada yang lagi jatuh cinta nih
sampe tidurnya aja pake mukena! Hehehe cie... cie... ada yang lagi jatuh
cinta... ada yang lagi jatuh cinta!” oceh Walid kemudian kabur dari kamarku
dengan masih mengejekku.
Deg! Apa ini jawaban dariNya?
Begitu jelas. Sangat jelas! Ah tapi sayang Walid merusaknya! Hmmm...
siapa ya sosok yang tak begitu jelas tadi? Sepertinya aku mengenalnya atau
minimal pernah melihat dan bertemu langsung dengannya. Tapi siapa dia ya? Dan
mengapa ada Bang Raka? Duh bingung!
“Kakak... Cepetaaaan!!! Mau
berjamaah di mushola enggak sih?” Walid kembali meneriakiku. Astagfirullah...
anak itu!
Di depan mushola kami berpapasan
dengan Bang Raka. Dia tersenyum dan menyapa. Aku hanya menjawab salamnya dan
acuh tak acuh. Sungguh... aku masih kesal padanya dan pada apa yang
disampaikannya mengenaiku pada dokter muda itu. Aku berlalu dari hadapannya
tanpa ekspresi. Dingin.
♥ ♥
♥
Fajar menyingsing perlahan. Semburat
cahayanya menyiluetkan semangat untuk menjemput hari. Selekas shalat Subuh, aku
menyimak hafalan Walid. Seseorang datang dari shaf depan, dia memamerkan
sebuah senyum, kecut! Kau tau... rasanya ingin langsung ku labrak dia,
ku paksa dia menjelaskan maksud kelancangannya!
“Fah...” dia berhenti sejenak. “Ada yang harus kita
bicarakan, abang tau semestinya ini enggak boleh terjadi. Namun ada sesuatu
yang harus abang ungkapkan...” dia kembali berhenti. Selamat bang! Bang Raka
berhasil menarik perhatianku. “Abang... abang tau kamu marah karena kelancangan
abang.” Lanjutnya.
Aku tak kuat lagi. Akupun angkat
bicara, “Maaf. Bang Raka bukan siapa-siapa saya! Dan Bang Raka tidak ada hak,
sama sekali tidak berhak ikut campur masalah pribadi saya!” kataku tanpa
basa-basi. Bang Raka terlihat kaget mendengar kata-kata yang ku ucapkan. Walid
hanya diam, ia tau aku tengah naik pitam.
“Maafkan abang Fah. Abang lakukan
ini karena abang yakin dengan Faisal. Abang enggak mau kamu jatuh ke sembarang
orang apalagi ke hati yang tak tepat, abang lakukan ini karena abang...” suara
Bang Raka melemah, terdapat keraguan di sana. “Sebenernya abang... abang
sebenernya... duh bagaimana ya abang bilangnya? Begini Fah, sebenernya ini
sangat tak pantas, ya... amat sangat tak pantas abang utarakan. Namun ada
sesuatu yang mengganjal hati ini bila abang tak jujur dan mengungkapkan
langsung padamu.” Dia kembali berhenti. Menimbang-nimbang.
“Maksud abang? Fah ndak ngerti.” aku
memojokannya.
“Sebelum abang nyantri di Ponorogo dulu, jujur abang sempat menaruh
hati padamu. Abang sempat sayang padamu, maka abang enggak mau kamu diimami
orang yang salah.”
Hah? Aku benar-benar kaget
dengan apa yang dikatakannya.
“Hmmm... kamu jangan salah paham.
Jangan khawatir! Rasa itu telah memudar oleh ketulusan Safira. Kini abang
sangat mencintai isteri abang. Yang penting sekarang, alhamdulillah... sekarang
abang lega, bisa dan berani mengungkapkan ini, meski terlambat. Namun abang tak
pernah menyesali itu. Kini, kamu sudah abang anggap adik abang sendiri. Sekali
lagi maafkan abang ya. Dan bila ada apa-apa jangan sungkan bilang ke abang ya.
Abang permisi, Assalamualaikum!”
Sesak! Aku tak mampu berucap.
Butiran-butiran air hangat merembes di kedua sudut mataku. Oh Rabbku...
♥ ♥
♥
Seminggu sudah waktu melaju dan
berlalu, namun belum mampu ku selesaikan membaca ‘proposal cintaku’ dari dokter
muda antah berantah itu. Bang Raka pun kini jauh berubah. Tak ada sapa
sama sekali meski hanya sepatah salam. Duh... kadang asbab perkara
perasaan, ukhuwah yang sebelumnya indah utuh terjaga bisa retak bahkan pecah
seketika.
Dhuha hari ini terasa berbeda. Hari
ke tujuh Ramadhan, tujuh hari lalu pula dia datang memintaku pada ayah. Seteleh
sujud Dhuha mampu membuat hatiku lebih tenang. Perlahan ku buka amplop putih
lembut ‘proposal cintaku’ itu. Sempat ku amati foto yang ada di dalamnya.
Seorang perempuan tua berkerudung hijau, seorang laki-laki berambut putih dan lima orang yang lebih muda.
Aku menarik napas, bismillah. Ku lewati bait-bait yang telah ku baca.
“...Aku Faisal Ahmad, anak kedua
dari lima bersaudara. Sudahkah kau lihat foto yang ku sertakan bersama surat
ini? Ya... itu keluargaku. Bila kau permudah langkahku guna mengetuk pintu
hatimu dan kedua orang tuamu, insyaAllah di malam takbir nanti aku akan datang
bersama waliku, murobiku, sebagai peminang sejati. Bila kau perkenankan aku
memasuki dan bertahta di hatimu, sujud syukurku pada Rabb-ku yang telah
mengizinkanku menyunting salah satu bidadari istimewaNya. Dan apabila kau
memang telah menutup pintu hatimu atau telah ada nama orang lain yang telah
terukir di sana, insyaAllah aku ikhlas. Aku akan belajar ikhlas, Rabb-ku hendak
lebih mempersiapkan dan memperbaikiku guna mampu menjadi imam yang lebih baik
untuk jauziyyahku kelak, siapapun itu...”
Tiap baitnya telah ku lewati, dan
hanya tersisa beberapa bait lagi. Namun sungguh, sama sekali tak ku rasakan getaran di hati
ini. Ya... sama sekali tak ada. Hanya terbesit secuil kagumku akan kedewasaan
kata-katanya, tak lebih. Hanya itu.
“...Aku mengerti, kedatanganku yang
terlalu tiba-tiba. Maka aku tak akan memaksamu bersedia berta’aruf denganku.
Kau telah berkenan membaca surat ini saja aku sudah bersyukur dan senang. Namun
tolonglah, sempatkanlah musyawarahkan perkara ini dengan Rabb dan kedua orang
tuamu. Sempatkanlah sisipkan namaku dalam istikharahmu. insyaAllah di saat
bedug takbir malam lebaran nanti aku akan kembali hadir dengan hati yang siap
akan apapun keputusanmu. Mendoakanmu adalah caraku memperbicangkanmu dengan
Rabb-ku, semoga nama kita telah disandingkanNya dalam lauful mahfuz. Salam.”
Di bawah bait terakhir ada tanda
tangan dan namanya tanpa menyandang gelar dokter. Hamba Allah, Faisal Ahmad. Alhamdulillah.
Akhirnya tuntas sudah ku membaca ‘proposal cintaku’ ini, tapi sungguh,
benar-benar tak ada getaran di hatiku, sedikitpun.
♥ ♥
♥
Rembulan tersenyum malam ini,
mengucap syukur pada Rabb-nya akan Ramadhan yang kian semerbak di tiap detik
dan detaknya. Ah... sungguh berbeda dengan hatiku, ya... hatiku terlalu
sibuk beristikharah untuk cinta
fana namun aku mengacuhkan-Nya.
Orang-orang beruntung tengah berlomba-lomba menangkan lailatul qadr dan
memborong besar-besaran cinta Rabb-ku yang sedang diobralNya. Sedangkan aku?
Tengah linglung dengan keadaan hatiku sendiri! Duh... memang rasa sakit
tak mampu menggoyahkan kekhusyuan yang telah coba ku bangun, justeru cinta! Ya...
cinta yang datang tiba-tiba. Duh apa iya ya ini cinta?
♥ ♥
♥
Ayah tampak termenung di teras
depan. Bibir beliau lirih bergetar, berdzikir mengagungkan asma Rabb-nya. Ku
lihat meja di hadapan beliau, terdapat sekitar lima atau tujuh amplop putih di
sana. Deg! Hah? Apa itu proposal-proposal cinta lainnya untukku? Ku
amati tajam amplop-amplop itu. Ayah melirik ke arahku, tersenyum.
“Bukan sayang! Ini bukan
proposal-proposal cinta lainnya sayang!” kata beliau, seolah tau apa yang ada
dalam benakku. Beliau tersenyum.
Beberapa saat kemudian mimik wajah
beliau berubah drastis, serius. “Fah... ayah bingung! Sudah beberapa orang
ustad penceramah mengembalikan amplopnya pada ayah. Bahkan ada yang isinya ditambah! Berlipat-lipat! Mereka
bilang ingin belajar ikhlas. Bila satu dua orang itu wajar, namun ini hampir
semua ustad Fah! Kira-kira ada apa ya? Ayah enggak enak, apa tanpa ayah sadari
ayah ada salah ngomong ya?”
“Ayah ini aneh. Lah wong orang mau
belajar ikhlas, mau beramal kok malah heran? Piye toh yah... ya mungkin Allah
sedang mengetuk hati mereka, hidayah dan cinta Allah selalu mengalir untuk
siapa saja apalagi di bulan yang suci
ini yah!” Celetuk ummi yang baru hadir membawakan minuman untuk kami.
“Ayah, adakah amplop lain yang belum
ayah berikan selain ke ustad-ustad itu?” aku meneyelidik.
“Tentu nak...” Ayah membuka sebuah
map dan mengambil salah satu amplop dari dalamnya. Aku meminta izin guna
membukanya. Dan taukah kalian apa yang kami dapati di dalam amplop itu?
Beberapa lembar uang dan secarik kertas kecil!ku amati kertas kecil itu.
‘Iklas tu susah emang, tapi
belajal iklas tu nikmat Allah yg luaaal biasa, kagak semua olang bisa
ngelasain. Bener dec! Kagak boong!’ tertulis tak jelas di kertas kecil itu.
Astagfirullah!
Ayah dan ummi,
menggeleng-gelengkan kepala, kaget. Beliau membuka semua amplop yang masih tersisa di dalam map tadi.
Terdapat pula kertas kecil yang sama di tiap amplopnya.
“Astagfirullah, jadi ini yang
menyebabkan para ustad mengembalikan amplopnya pada ayah?...” Ayah mengelus
dada.
Melihat tulisannya yang amburadul,
aku tau siapa pelakunya! Ya... pasti dia! Pasti! Kebetulan, dia baru pulang
dari bermain petasan.
“Walid!!!” seruku dan ummi
hampir bersamaan.
Ummi melotot kearahnya,
beliau bangkit, “Ini siapa yang nulis?” tegas ummi sambil memperlihatkan
kertas-kertas kecil itu ke Walid. Walid mengacungkan jari telunjuknya sambil cekikan,
tak sedikitpun tampak penyesalan di wajahnya. Sama sekali, “Dede mi... hehe...”
Ummi kini menyipitkan matanya
dan menjewer telinga Walid, “Aduh dede... Kamu tuh isengnya keterlaluan
dede!”
“Ampun mi... Ampun! Maksud dede baik
mi. Dede tuh begitu tuh bukan sekedar iseng doang mi! Dede cuma kasian mi sama
bapak-bapak ustad itu mi. Kata kak Fah kan ibadah itu wajib, kudu, harus ikhlas karena Allah,
mi. Kalo mereka dibayar namanya enggak ikhlas dong mi? Huhu... ampun mi...
sakit! Jangan jewer dede mi!” Walid berusaha menjelaskan, ia meringis
kesakitan.
Waduh... namaku dibawa-bawa. Ayah
ikut bangkit. Beliau menarik lembut Walid ke arahnya, “Dede... denger ayah...
Dede enggak sepenuhnya salah, maksud dede juga baik. Malahan ayah bangga sama
dede. Tapi... cara dede yang enggak baik dan ayah enggak suka. Ayah kan jadi
enggak enak sama ustad-ustadnya de. Dede harus tanggung jawab! Besok sama ayah
dan kak Fah, dede harus ikut ngejelasin ke semua ustad. Jangan diulangi lagi ya
Nak...” Ah... itulah ayahku!
“Walau niat dede baik tapi tetep ini
semua itu keterlaluan! Dede harus dihukum. Ummi mau dede besok setor surat
Luqman ke ummi atau Kak Fah. Dede... denger ummi!” Tegas ummi tak ingin
Walid membenarkan segala cara meski maksud dan tujuannya adalah baik.
Walid tak merespon, bahkan ia acuh
tak acuh masuk ke kamar. Sekeluarnya dari kamar dengan sarung dan peci
ditangannya, ia merajuk. “Enggak ah mi... dede ndak mau ah. Masa hafal al Quran
cuma gara-gara dede dihukum ummi? Maunya
dede niatnya dari hati dede sendiri mi. Kata Kak Fah sebab itu pasti akan
berpengaruh sama akibat. Dede gak mau ah. Nanti hapalnya cuma sebentar, besok
udah lupa. Gak berkah! Dede ke musolah ya. Dede mau bantu Bang Raka ngebuat
spanduk zakat. Dadah kakak... Assalamualaikum semua!” pamitnya mencium tangan
kami bergantian. Ummi dan ayah hanya bisa menggeleng.
♥ ♥
♥
Kumandang Adzan Subuh menggema,
menggetarkan jiwa-jiwa pedamba surga. Adzan Subuh di hari ke empat belas
Ramadhan, duh... mengapa cepat sekali waktu melaju dan berlalu, kini
Ramadhan telah mencapai pertengahannya! Eh... tunggu! Sepertinya ada
yang berbeda! Suara adzan kali ini syahdumya bukan main. Begitu merdu,
membuatku kian merindu Rabb-ku. Bukan! Sepertinya muadzinnya bukan Bang
Raka ataupun Ayah, baru pertama kalinya ku mendengar suara ini. Ah... ternyata
di atas langit masih ada langit, ku kira hanyalah Bang Raka yang termerdu
adzannya di komplek ini. Aku memejamkan mata, menjawab setiap kalimat adzannya dan menikmati semilir ketenangan
yang masuk ke relung-relung sanubari.
Embun-embun menggelayut mesra di mawar-mawarku,
berdzikir menyejukan pagi menyambut sang fajar menunaikan tugasnya. Seseorang
di shaf depan bangkit dan mengumandangkan iqomah. Suara yang sama
dengan suara adzan tadi, sepertinya tak asing bagiku. Tapi siapa ya? Ah...
peduli apa. Aku ingin khusyu, hmmm... tepatnya belajar khusyu!
♥ ♥
♥
Malam nanti malam Ramadhan ke lima
belas. Di daerah rumahku terdapat al urf , yakni malam ketupat, tradisi
syukuran Ramadhan telah memasuki pertengahannya. Biasanya ba’da terawih
nanti warga sekitar akan makan ketupat bersama di mushola. Setelah
seharian berkeliling bersama ayah dan Walid ke rumah-rumah para ustad untuk meminta maaf
dan menjelaskan keisengan adikku itu, barulah ku membantu ummi memasak
ketupat.
Namun baru sejenak aku berkecimpung
di dapur, terdengar suara salam beriring ketukan pada pintu. Tampak sesosok berkoko
putih. Deg! Bukankah dia muadzin Subuh tadi?
MasyaAllah! Ternyata Aa Ryan!
Ar Ra’yan Jalil. Saudaranya Pak Bach, seorang dosen Binus sekaligus
ketua RT di komplek rumahku. Wah... dia terlihat tak begitu berubah dari
dua tahun lalu.
“Apa kabar Khumairah?” duh...
dia masih menyapaku dengan panggilan itu. Sedikit bergetar hatiku. Aku
tersenyum simpul.
“Alhamdulillah A... Allah makin
sayang sama Fah. Mari A masuk!”
Mengetahui Aa Ryan yang datang,
ayah, ummi dan Walid menyambutnya. Hangat. Duh... tiba-tiba semua
kembali terekam jelas di relung sanubari dan otakku. Ya... memori dua
tahun yang lalu.
“Kapan datang dari Bandung, nak? “
Ayah basa-basi.
“Semalam tad, ustad sehat?” tuh kan...
mereka masih tetap akrab.
“Alhamdulillah Nak!” jawab ayah
singkat.
Tiba-tiba ia beralih padaku,
suaranya teduh. Aku tertunduk, enggan melihat ke arahnya. “Khumairah gimana
kuliahnya? Lancar?”
Aku masih tertunduk. Walid berdegham
aa memanggilku Khumairah. Duh... setelah dua tahun berlalu, mengapa ia
kembali hadir di hadapanku?
♥ ♥
♥
Malam Ramadhan ke lima belas.
Pertengahan. Ada syukur namun tersisip pula ketakutan di sana. Takut akan
kehilangan juga takut akan menghilang, tak dapat lagi mengecap dasyatnya nikmat
Ramadhan.
Semenjak ‘proposal cinta’ ku terima,
Dokter Faisal sama sekali tak menemuiku bahkan menghubungiku. Sama sekali.
Namun taukah kalian... malam ini ku lihat dia hadir dan tengah bercengkerama
dengan Rabb-nya dalam itikaf dan sujudnya di shaf terdepan. Deg!
Tepat di samping Aa Ryan! Astagfirullah... kekhusyuanku berkurang
drastis. Miris! Hanya asbab cinta fana
yang hanya sementara membuat cinta sejati malah tak berpondasi meski
hanya dalam hati.
Dzikiran sang malam di tiap butir
gemintang yang berkelip riang terhias alunan tahlil yang merdu mengalir.
Ah... Ramadhan... sekejab kami telah memasuki pertengahanmu dan
selangkah lagi engkau mengantar kami ke gerbang kemenangan fitri. Namun
Ramadhan tahun ini sungguh berbeda! Begitu banyak perkara yang sejatinya tak begitu
penting namun begitu banyak perhatianku yang tersita karenanya.
Maafkan aku Ramadhan... aku masih payah.
Tahlil hari ini dipimpin Bang Rafa. Aa Ryan duduk
bersebelahan dengan Dokter Faisal. Sesaat mata kami bertiga tak sengaja
berpapasan, mereka berdua tersenyum ke arahku. Aku hanya sekedar mengangguk takzim
entah ke arah Aa Ryan atau ke Dokter Faisal. Ah! Miris! Aku tak mampu
khusyu. Astagfirullah.
♥ ♥
♥
Ayah memasuki kamarku, sejenak ku
hentikan tilawahku dan mengecup tangan beliau. “Nak... tadi Nak Faisal
menghampiri ayah. Ia menanyakan kabarmu. Ia menolak saat ayah ajak mampir dan
hanya menitipkan salam untukmu. Fah, tadi kami banyak berbincang. Ayah semakin mengagumi
pribadinya, nak! Oh ya, ayah juga sempat berbincang dengan Nak Ryan, ayah rasa
kedatangan Nak Ryan dengan niat yang masih sama dengan dua tahun lalu. Ayah tak
menceritakan tentang kehadiran Nak Faisal juga telah datang memintamu pada
ayah. Sebaiknya kamu saja yang memberitaukannya ya nak. Ayah menyerahkan semua
keputusan padamu. Sepenuhnya. Namun yang ayah minta istikharahlah. Utamakan
yang mampu membuatmu lebih mencintai dan dicintai Allah.” Lanjut ayah yang
kemudian beranjak keluar dari kamarku.
Aku menghela napas. Sungguh, ujian
kenikmatan itu lebih besar dibanding diuji dengan musibah. Kini aku sering
mengacuhkanNya. Pintu kamarku kembali diketuk seseorang, Walid. Dia mendekat ke
arahku. “Kak... kakak tadi dimarahin ayah ya?”
“Ndak kok de. Dede belum bobo?”
“Belum ngantuk kak! Kak tadi pas doa
Qunut-kan dede langsung sujud ya, eh Gio sama Riza ngetawain dede ka...
huhuhu... kan dede enggak tau ka kalo terawih malem lima belas itu pake doa Qunut pas Witir
rakaat terakhir. Bukannya doa Qunut itu dipakenya pas shalat subuh doang ya ka?
Kok tadi dipake sih kak? Hukumnya apa sih?” lirihnya.
Duh.... penyakit ‘ingin
tahu’ alias kepo-nya Walid kembali kambuh nih! Ah... kekepoan
yang kronis. Pasti dia akan bertanya sampe akar-akarnya nih! Kritis! Terlalu
kritis! Bahkan aku sering dibuatnya kesulitan dan krisis menjawab
pertanyaan-pertanyaannya.
“Dede ganteng... doa Qunut itu
hukumnya sunah. Tapi kalo imamnya membaca doa Qunut makmumnya wajib mengikuti!”
“Tapi kenapa enggak semua shalat
pake doa Qunut aja ka? Kan kata kakak
sunah tuh?” dia menyelidik.
“Islam itu sudah diatur dengan
teratur oleh Sang Maha Pengatur. Aduh dede... semua itu kan udah Allah jelasin
di al Quran dan hadist!” jelasku.
Walid hanya mengangguk-angguk.
“Islam indah ya ka. O iya kak apa ya hukumnya maen petasan? Dosa engga ya ka?
Dede-kan suka maen petasan!”
“Lebih banyak manfaat apa
mudhorotnya?” aku balik bertanya padanya.
“Modho.... mudho... mudho apa kak?”
dia tampak berpikir keras.
“Mudhorot de... kerugian,
keburukannya... Dede...”
“Hmmm... dede kan pake uang dede
pake uang dede buat beli petasan, Cuma dibakar! Enggak ada manfaatnya ya kak?
Eh... tapi kan ka dede secara engga langsung ngebantu orang ka. Pembuat sama
penjual petasannya!” dia sibuk menimbang-nimbang.
“Dede... petasan itu bikin dede
boros! Mendingan uangnya buat beli yang lain...apa kek yang lebih bermanfaat!”
Dia sewot padaku, “Kak.... Allah tuh
ciptain segala sesuatu pasti ada manfaatnya tau! Huh!”
“Dede balik geh ke kamar dede! Bobo!
Udah malem de. Nanti sahurnya kesiangan loh. Bobo ya....” aku menggiringnya
keluar dari kamarku. Bibirnya langsung maju lima senti, cemberut.
“Ih sebel banget sama kakak! Kalo
lagi galau jadi pelit sama galak! Huh!” serunya seraya meninggalkan kamarku.
Hah... Duh... aku kalah
telak!
♥ ♥
♥
Ataa amrullahi falaa
tasta’jiluuhu subhaanahu wata’aala’ammaa yusyrikuun... aku melanjutkan
tilawahku. An Nahl ayat satu. Duh... baru beberapa lembar aku kembali
melanjutkan, namun hatiku kembali terbang ke awang-awang, menerawang. Aku
bangkit, ku ambil ‘proposal cinta’ dari dokter muda itu.
Ternyata dia begitu menjaga syariat.
Pantaskah ku menjadi pendampingnya di bumi jihad? akhlakku saja masih belang
blentong! ilmuku begitu masih fakir dan langkahku belum mampu untuk
istiqomah. Ah... pantaskah?
♥ ♥
♥
Hari tujuh belas Ramadhan, aku
kembali mendapat kejutan dari Rabb-ku. Ba’da ashar kembali datang
sekeping hati yang juga menawarkan diri untuk memimpinku, mengimamiku. Aa Ryan!
Benar dugaan ayah, dia kembali datang memintaku.
♥ ♥
♥
Dua tahun lalu, saat ku masih duduk
di bangku SMA. Ada sekuntum cinta yang menawarkan diri hendak mekar sempurna di
taman kehalalan tentunya. Ar Ra’yan Jalil. Kami memanggilnya Aa Ryan,
seorang ahli herbal dan pengurus sebuah pesantren di kawasan Bandung.
Entahlah... mengapa Allah melalui angin takdir dan waktu memperkenalkannya
padaku. Sama seperti Dokter Faisal, tak lama setelah kami berpapasan Aa Ryan
menemui ayah, berharap kuntum itu diizinkan ayah mekar untuk dijadikan penghias
kanvas kehidupan.
Sejatinya ayah tak menolaknya, hanya
saja ayah tak ingin kuntum itu mekar terlalu dini, tak ingin aku diminta dan dijemput
terlalu pagi. Ayah memberinya ultimatum, jikalah benar dia telah memilihku
karena Allah maka ia harus menunggu. Menantikanku di batas waktu. Dan kini... ah
dia kembali hadir dengan niat yang masih sama bulat.
♥ ♥ ♥
Dua tahun sudah waktu melaju, dia
kembali hadir guna kembali berikhtiar agar kuntum cinta itu mekar. “Seperti
yang lalu ustad, saya memang tidak bisa menjanjikan harta dan perkara dunia.
Namun saya sampai saat ini sangat berharap bisa meminang Khumairah, Aisyah
dambaan saya. Saya ikhlas hendak mengkhitbah Syarifah....”
Sungguh, menjaga hati dan
mengistiqomahkan niat terlebih selama lebih
dari dua tahun itu bukanlah perkara yang mudah. Namun...
“Dulu memang saya yang memutuskan.
Namun kini sepenuhnya saya serahkan pada Syarifah sendiri. Ia sudah dewasa.
Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga Allah
memberinya yang terbaik.” Ayah membuyarkan lamunanku.
Semua mata kini tertuju padaku,
rasanya seakan ku hendak ditelan bumi saja! Aku menghela napas sesaat,
menenangkan syaraf-syarafku yang terasa beku. Bismillah... “A... wanita
itu dinikahi karena empat perkara...” aku berhenti sejenak, duh ya
Allah... rasanya otot-otot dan urat nadiku rontok seketika!
“Karena harta, kecantikan raga,
keturunan dan agama. Dan keempat hal itu sungguh masih sangat jauh dari
sempurna pada diri Fah. Fah ingin tau bagian apa yang Aa cintai dari diri ini?
Dan alasan apa yang membuat A bertahan bahkan kembali hadir, padahal A bisa
pergi dan menjemput Aisyah lain yang jauh lebih baik dan pantas menemani A berjihad
di kehidupan ini.” Lirihku.
“Jangan memaksaku mengatakan mengapa
saya mencintaimu dan apa yang saya kagumi dari dirimu. Karena mungkin jika saya
mengatakan satu hal yang menjadi alasan saya hendak meminangmu, mungkin di saat
yang sama saya tidak siap dengan dua, tiga atau sekian dari kekuranganmu. Saya
mencintaimu dengan cara dan alasan yang sederhana! Saya mencintaimu dengan apa
adanya, bukan ada apanya.” Jawabnya, mantap.
Tak terasa embun hangat merembes
dari kedua sudut mataku. Usia kami terpaut jauh. Delapan tahun. Aa Ryan adalah
orang sederhana namun begitu istimewa. Ada kelebihan dan sesuatu yang berbeda
di dalam dirinya, aku tak mampu menguraikannya satu persatu. Dia begitu dekat
dengan Pemiliknya.
Senja kian mesra bertilawahkan
cinta. Semerbak harumnya lailatul qadr makin tercium, menyuntikan
semangat di hati-hati yang tengah belajar taat dan mendekat dengan Sang Maha
Rahmat. Hati ini makin menyesak. Duh Allah... ujianMu ini sungguh berat,
perkara hati yang terinfeksi cinta membuatku mengacuhkanMu. Ah... apa
iya ya ini cinta?
Bismillah, “A... awal
Ramadhan lalu, ada sekeping hati datang menawarkan diri mengimami Fah. Dia
Dokter Faisal, yang saat acara syukuran malam ketupat duduk persis di samping
A. Dia telah datang menyerahkan proposal cintanya buat Fah, A!” Jelasku, aku
tertunduk. Tak beraniku menatap ke arahnya.
Aa begitu kaget mendengar
penjelasanku, ada kekecewaan yang begitu terpancar darinya. Dia terlihat benar
tengah berupaya menenangkan dirinya sendiri, “Dan Ifah menerimanya? Terlambatkah
kehadiranku Fah?” lirihnya, suaranya berat. Kini dia memanggilku ‘Ifah’...
bukan Khumairah!
Aku menggeleng lamban. “ Sejatinya
dia belum mengkhitbah Fah. Dia datang dengan murobinya baru sekedar menyatakan
niatnya mengkhitbah Fah di akhir Ramadhan nanti.”
Tiba-tiba ada setitik cahaya yang
merekah di wajahnya ketika ku mengatakan itu, entahlah. “Fah... hem... seorang
muslim tidak boleh mengkhitbah wanita yang telah di khitbah muslim lainnya.
Namun mendengar penjelasanmu, alhamdulillah... A merasa sedikit lebih lega.
Allah masih memberi A kesempatan. Sisipkan nama A juga dalam istikharahmu.
Akhir Ramadhan nanti A juga akan datang. Apapun hasil istikharah dan
keputusanmu nanti, InsyaAllah A akan ikhlas. A akan belajar ikhlas!”
♥ ♥
♥
Setelah dia pergi, ayah dan ummi
menasehatiku. Ah... tepatnya membantuku menentukan arah. “Fah... taukah
nak, dua hal yang membuat ayah sama sekali merasa tak mampu melakukan apa-apa.
Pertama, di saat ummi berjuang sendiri kesakitan melahirkan anak-anak ayah,
sedangkan ayah hanya bisa membantunya lewat doa. Dan kini, di saat ayah
menyadari puteri ayah telah dewasa. Puteri kesayangan ayah tiba-tiba banyak
diminta laki-laki lain. Inilah roda kehidupan anakku. Kamu harus berani
tentukan sikap, pilihlah yang lebih mampu membimbing dan membuatmu lebih
mencintai Rabb-mu. Ayah dan ummi hanya bisa membantu lewat doa dan secerca
nasehat agar jalanmu tak salah apalagi tersesat. Nak Faisal, Nak Ryan atau
siapapun yang kau pilih nanti, akan ayah dan ummi dukung.”
Aku terisak, ummi memelukku
erat. Ku teringat mimpiku beberapa waktu lalu, di persimpangan aku berdiri,
harus ku putuskan kemana ku kan melangkah. Ah... semoga ku mampu menangkan
hikmah, agar hidup ini tak sia-sia belaka.
Mendadak Walid heboh, menyerbu
masuk. Ia baru pulang dari memasang spanduk zakat bersama Bang Raka. Melihatku
tengah menangis, ia ribut. “Kakak... kakak kenapa? Ada yang nakalin kakak?
Bilang sama dede siapa yang berani nakalin dan buat kakak nangis!” katanya,
lantang. Ayah dan ummi tersenyum dibuatnya.
Ku hapus airmataku dan segera
menggantinya dengan sebuah senyuman. “Ndak kok sayang. Kakak ndak kenapa-napa.
Sudah mau adzan, yuk bantu kakak siapin ta’jil”. Ku alihkan pembicaraan, ia
menurut tanpa banyak menuntut penjelasan.
♥ ♥
♥
Tasbihan sang Ramadhan sudah sampai
pada butir ke dua puluhnya. Hati-hati yang haus cinta sang Maha Cinta makin
berlomba-lomba merenangi lautan cinta Ramadhan penuh berkah. Setelah malam
ketupat lalu, pengajian sore di mushola ditutup sementara. Para santri ada yang
tengah mudik, ada pula yang tengah beritikaf di masjid-masjid.
Senja kian ramah menyapa. Bang Raka
dan jauziyyahnya berkunjung ke rumahku. Tentu saja aku terkejut dan
bertanya-tanya akan kedatangan mereka. Astagfirullah!
Ayolah Fah... berkhusnudzon-lah! Mereka itu hendak bersilahturahmi,
eratkan ukhuwah agar tetap indah utuh terjaga.
Duh... bergamis anggun
berbalut hijab syar’i membuatnya terlihat kian istimewa. Mereka memang pasangan
yang cocok!
“Fah... saya dan Bang Raka datang
kemari karena kami...” Safira berhenti sejenak, pandamgannya berpaling ke Bang
Raka. Deg! Ada apa lagi ini? Mau apa lagi mereka kemari?
“Ah... lebih baik Bang Raka saja
yang langsung menjelaskannya!” sambungnya.
“Begini Fah... hem... kemarin abang
lihat Ar Ra’yan, saudaranya pak RT kembali datang kemari. Dua tahun lalu dia
juga pernah datang kemari kan?” akhirnya Bang Raka angkat bicara meski tampak
sekali terdapat keraguan di sana.
“Maksudnya?” aku tak mengerti. Bang
Raka terdiam, ia bungkam. Safira tersenyum, ia tau suaminya tengah ragu.
“Dulu...Bang Raka sempat menaruh
hati padamu. Namun, Bang Raka telah terdahului oleh saudaranya pak RT tadi.
Abang Raka pun kecewa, beliau kembali ke pondok, hingga akhirnya Allah
pertemukan dan menjodohkannya dengan saya.” Safira menjelaskan, tak sedikitpun
ada kecemburuan yang terlihat. Tampak dari matanya, ia telah begitu percaya
pada Bang Raka. Bang Raka menggenggam erat tangannya.
“Lalu?” Aku masih tak mengerti.
“Maaf Fah... abang kira dia telah
mengundurkan diri dan telah membatalkan niatnya untuk mengkhitbahmu maka abang
berani mengenalkanya padamu. Tapi tenyata Ar Ra’yan itu datang kembali. Maafkan
abang ya Fah!”
Aku mendesah napas. “Ndak Bang.
Abang ndak salah. Malahan Fah seharusnya berterima kasih karena Abang, Fah kini
bisa lebih belajar dewasa. Maafin Fah ya Bang kemarin sempat kesal dan
marah-marah. Hingga kini Fah belum tau Bang, siapa yang harus Fah pilih.”
“Loh kenapa?” Bang Raka dan Safira
hampir bersamaan, tersentak. Aku tersenyum, “Fah butuh waktu. Fah butuh
bermusyawarah dengan Allah dalam istikharah Fah.”
“Fah... kamu sudah kami anggap
seperti adek kami sendiri. Kami tau, Abang dan Safira sama sekali tak ada hak
untuk mencampuri perkara hati dan istikharahmu. Namun Abang ingin kamu lebih
mengenal Faisal. Dia pribadi muslim yang baik. Bukan! Kamu jangan salah sangka.
Bukan Faisal yang menyuruh kedatangan kami. Ini mutlak inisiatif kami sendiri.”
Bang Raka dan Safira tampak serius.
♥ ♥
♥
Ramadhan hari ke dua puluh satu.
Seperti yang mereka katakan kemarin, aku dan Walid berbuka bersama dengan Bang
Raka beserta jauziyyahnya. Masjid al Mujahidin, masjid megah di kawasan
barat Pamulang. Entahlah, maksud apa Bang Raka dan Safira mengajakku berbuka
serta Terawih di sini.
Seorang marbot masjid
membagikan ta’jil ke para jamaah. Kolak, segelas air mineral, lontong
dan tahu goreng. Alhamdulillah.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Alhamdulillah, adzan Maghrib gagah
berkumandang. Duh... lagi-lagi ada yang berbeda. Ah... entahlah mengapa setiap
mendengar adzan dengan suara merdu namun lantang, hatiku bergetar. Dasyat.
♥ ♥
♥
Shaf laki-laki dan wanita dibatasi
bentangan kain hijau. Terawih dan Witir di masjid ini hanya sebelas rakaat.
Namun, surat-surat yang dibaca sang imam bukan hanya juz tiga puluh. Di
antara Terawih dan Witir tersisip ceramah agama.
Suara sang ustad mengawali
tausiyahnya dengan salam dan tilawah singkat. Kain hijab membuatku tak bisa
melihat wajanya. Ustad itu menilawahkan beberapa ayat pembuka surat Yusuf. Deg!
Surat Yusuf, surat yang kupinta sebagai mahar. Jdag-jdug... hatiku
dibuatnya. Bermaqam jiharka, tilawah itu kian menyusup masuk ke
sanubari. Menenangkan. Di shafku beberapa orang berbisik-bisik, “Yang
ceramah itu marbot baruloh! Murid nya kyai Sulaiman!”
Astagfirullah... khusyu
ternyata tak mudah.
♥ ♥ ♥
Seusai Terawih, aku dan Safira
menunggu Bang Raka dan Walid di teras masjid. Suara ustad tadi kembali
bertilawah dengan speaker masjid. Tiba-tiba seseorang berlari ke arahku, bukan
main kagetnya ku dibuatnya. Walid.
“Kakak... Bang dokter keren bener
yaaa!” serunya
“Maksud dede?”
“Tadi... bang dokter jadi imam, bang
dokter juga yang ceramah. Noh sekarang lagi ngaji!” jelas Walid.
Bang Raka menghampiri kami, Dikecup
tangannya oleh Safira, ia membalasnya dengan sebuah kecupan mesra di kening
Safira. Duh... mesranya! Walid reflek menutup matanya. Bang Raka mengajak kami menemui seorang bapak
yang tengah menyapu teras masjid. “Ini yang Abang maksud. Demi Allah... Demi
Allah ini inisiatif Abang sendiri. Tunggu ya.” Bisiknya padaku. Ia mengajak
bapak yang tengah menyapu itu mengobrol sejenak.
“Pak... suara ustad yang sedang
ngaji itu enak bener ya pak. Bikin hati adem!” Bang Raka mengawali pembicaraan.
“Eh... dia bukan ustad mas. Dia itu
Fais, marbot baru di masjid ini. Ehm... sebenernya bukan marbot juga sih. Dia
muridnya Kyai Sulaiman. Selama Ramadhan dia tinggal di sini.” Jawab bapak itu.
“Dia seorang dokter bukan sih pak?”
Bang Raka kembali bertanya.
“Saya tidak tau pasti sih mas. Ah
tapi masak iya dia seorang dokter? Yang saya tau dia seorang mahasiswa, lagian
selama Ramadhan ini siang, pagi, sore ataupun malem dia selalu di masjid ini.
Beritikaf dan membantu pengurus masjid ini, kalo dia seorang dokter pasti dia
prktek toh mas? Hm... kira-kira memangnya ada apa mas? Kok sepertinya ingin
banyak tau soal Fais?” Bapak itu menyelidik.
Deg! Tak sengaja ku melihat
seorang bapak bersorban putih, tampaknya beliau adalah bapak yang mengantarkan
Dokter Faisal datang ke rumahku beberapa waktu lalu. Bapak marbot tadi
mengatakan bahwa beliau adalah Kyai Sulaiman, gurunya Fais alias Dokter Faisal.
MasyaAllah... hatiku
bergetar. Bergetar hebat. Pelan-pelan ada secercah kekaguman yang menyusup
masuk. Namun kekaguman itu juga menciptakan
keraguan. Hafiz Quran, dekat dengan Allah, sederhana, seorang
dokter pula! Ah... tetapi apakah mampu mengalahkan kesetiaan selama dua
tahun? Mengalahkan cinta pertama yang berani langsung menemui ayah. Duh...
sungguh bimbang aku dibuatnya.
♥ ♥
♥
Esoknya, Bang Raka dan Safira
mengajakku ke rumah sakit yang ternyata adalah rumah sakit tempak Dokter Faisal
biasa praktek. Terpampang namanya di papan nama Dokter dan Jadwal rumah sakit
itu. Bang Raka memberiku kesempatan
untuk membuktikan sendiri dan mencari tau tentang Dokter Faisal. Ia menemani
Safira ke spesialis kandungan sedangkan ku mengarah ke bagian tempat Dokter
Faisal praktek. Aku menanyakan keberadaan dokter muda itu ke salah seorang
suster. Dan taukah kalian apa jawaban suster tadi?
“Dokter Faisal sedang tidak berada
di tempat mbak. Setiap awal Ramadhan hingga sepekan setelah Idul Fitri biasanya
beliau selalu mengambil cuti. Mbak ada keperluan mendesak dengan beliau? Nanti
saya sampaikan!” kata suster itu.
Aku masih penasaran,”Oh... mungkin
beliau tengah mudik ya sus?”
“Wah... saya kurang tau tuh mbak.
Namun dengar-dengar tengah beritikaf di masjid... masjid... aduh maaf mbak saya
lupa nama masjidnya!”
Kini ku mengerti maksud Bang Raka
dan Safira. Dokter Faisal memang berbeda, istimewa.
♥ ♥
♥
Alunan syahdu mahabbah rindu,
menyemarakkan sepuluh malam akhir Ramadhan. Ada malam seibu bulan diantaranya.
Membuat hamba-hamba pedamba ampunan dan cintaNya kian khusyu dalam sujud, dalam
kidung-kidung dzikir, dalam merdunya tilawah, dalam nikmatnya Ramadhan. Namun
berbeda denganku, yang masih linglung dan bingung menentukan pilihan. Memilih
dan dipilih, perkara hati yang tak mudah.
Malam ke dua puluh tujuh. Banyak
sudah yang membayar zakat di mushola ini. Bang Raka dibantu ayah dan beberapa
orang lain menjadi amil. Saat mengantar jamuan untuk para amil, ku
melihat Walid yang tengah memainkan beras zakat, “Dede jeleeeek... beras zakat
jangan dimainin ah!” aku melotot ke arahnya.
“Ih... kakak suudzon aja! Orang dede
itu lagi ngitungin zakat sambil zikir tau... Allah... Allah... gitu!”
Aku terdiam mendengar penjelasannya.
Duh... yang tampak oleh mata tak selamanya itu nyata dan yang nyata
belum tentu benar sempurna.
Seorang ibu mendatangiku, ternyata Bu Bach
alias bu RT. Beliau tersenyum ramah. Duh... kok tiba-tiba perasaanku ndak
enak ya? Sepertinya ada sesuatu yang hendak beliau sampaikan padaku. Walid
pamit meninggalkan kami bicara, menyalakan petasan.
“Nak Syarifah... Ra’yan titip salam
buatmu. Mmmhh... dia sudah menceritakan niatnya. Ibu sangat senang nak!...” Bu
Bach tertatih melanjutkan, sepertinya ada sesuatu yang beliau sembunyikan! Khunudzon
Fah! Khusnudzon!
Kami tak banyak berbincang, beliau
malah pamit pulang.
♥ ♥
♥
Malam ke duapuluh delapan. Tirai
malam membuka cadar kekhusyuan, aku masih bersimpuh dalam istikharahku meski
Ramadhan telah di penghujung gerbang dan hendak pamit pulang. Sungguh aku
menyesak dan menyesal. Bukan! Bukan mengenai perkara hati apalagi cinta, namun
tentang Rabb-ku. Ramadhan kali ini sungguh berbeda. Aku begitu mengacuhkanNya. Duh...
padahal gerbang syawal sudah kian dekat mengintip. Tak rela ku Ramadhan akan
segera beranjak, namun aku masih begitu payah. Cinta fana membuatku buta bahkan
terlalu asik hingga ku terlupa pada hakekat cinta yang utama. Buta hakekat
cinta yang seharusnya. Bulan di mana seharusnya ku belajar untuk makin mahabbah
namun justeru aku kian kehilangan arah. Rabb-ku... siapapun yang kelak Kau
sandingkan denganku semoga dia bisa lebih mengenalkanku padaMu, agar lebih
bertambah cintaku padaMu.
Walid tengah ribut, ia ngambek.
Bukan! Bukan meminta dibelikan baju lebaran. Ia malah menolak ketika ayah dan ummi
menawarinya. “Dede minta mentahnya aja deh yah! Biar dede yang bayar zakat ayah,
ummi sama kakak. Tapi sisain dikit ya yah buat beli petasan!”
Ayah dan ummi sudah berusaha
menjelasknan bahwa semua telah diatur pendanaannya, namun ia tetep kekeh,
merajuk. Duh... anak satu ini!
♥ ♥
♥
Deg... Deg... rasanya
jantungku berdetak lebih cepat berlipat-lipat. Tiap detik dan detak semakin
erat dan erat, sesak. Entahlah. Sampai saat ini Aa maupun Dokter itu sama
sekali tak mengabari atau sekedar menyapa dan menemuiku. Entahlah. Diam mereka,
hening mereka adalah bagian dari cara mereka menjaga jarak adalah untuk
mengjhusyukanku beristikharah atau mungkin mereka perlahan pergi. Mundur jauh.
♥ ♥
♥
Hari ke duapuluh sembilan, Ramadhan
hampir sempurna bilangannya. Malahan nanti sore sidang isbat akan
diadakan. Hari ini mungkin bisa menjadi hari yang terakhir di Ramadhan tahun
ini. Semoga bukan Ramadhan yang terakhir buatku. Berarti... bisa jadi malam ini
atau malam esok... ah... kini memang telah ada satu nama yang terpatri dalam
hatiku, namun entahlah. Nama yang samakah yang tertulis di lauh mahfuzku?
Aku berwudhu, Dhuha hadir memanggil. Mentari naik sepenggala memanjakan
dzikiran mawar-mawar yang tersenyum bermekaran. Dalam munajah, aku
berserah. Pasrah.
♥ ♥
♥
Hilal telah menampakan diri
tersenyum membisikkan kemenangan di kesempurnaan bilangannya. Ulul amri telah
memukul palu pada isbat tadi, isyarat esok ied fitri akan tiba. Ummi
tengah menyiapkan masakan guna menyambut kehadiran Idul Fitri besok, Ayah dan
Walidpun tak berada di rumah, mereka tengah menyebar kupon zakat ke para mustahik.
Tak ada yang istimewa yang dipersiapkan untuk kedatangan mereka, hem...
ya mereka. Dokter Faisal dan Aa Ryan.
♥ ♥
♥
Takbir beriring gempita tabuhan
bedug dan suara petasan _yang tentunya kerjaan Walid_ telah menggema. Air
mataku jatuh, antara syukur dan sesal. Ramadhan telah pergi dan datanglah sang
fitri. Kumandang takbir cinta bergema hingga ke hati-hati. Dalam alunan tasbih,
takbir dan tahmidku ini, sujud syukurku padaMu, Kau masih
izinkanku lalui hari.
Sebuah mobil hitam berhenti di
gerbang depan, turunlah seseorang seng segera membukakan pintu mobil itu untuk
seorang bapak dan seorang ibu berjilbab yang
tampak tak lagi muda. Disusul dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Doktet
Faisal dan keluarganya. Haduh... semarak tabuhan bedug itu dikalahkan
oleh detak jantungku!
Mereka mengucapkan salam. Ketika ibu
berjilbab yang tampak tak lagi muda itu berpapasan denganku, Beliau tersenyum
dan mengelus jilbab yang membungkus kepalaku. Tak lama kemudian ayah, Walid
dan... eh tunggu! Bang Rakapun datang dari mushola. MasyaAllah...
entah berapa skla richter guncangan yang terjadi di atsmofir hatiku.
Ayah menceritakan perkara Aa ke Dokter Faisal dan
keluarganya. Awalnya ku lihat Dokter itu sedikit gelisah, namun dengan cepat ia
mampu menenangkan diri dan hatinya, “Kalo
memang Dik Ifa adalah jodoh saya toh akan tetap Allah satukan meski
jutaan persoalan menghalangi.” Katanya, mantap.
Ibunda dokter itu mengambil posisi
duduk di sebelahku, sesekali ia memperhatikan dan melihat ke arahku. Salah
tingkah ku dibuatnya.
Ayah, Ummi, Walid bahkan Bang
Raka terlibat obrolan asik dengan Dokter faisal dan keluarnya. Duh...
mereka seperti keluarga besar yang lama tak berjumpa tengan mengadakan reoni!
Sesekali mereka bertakbir bersama. Dokter itu tak mau mencuri start, ia
menunggu kehadiran Aa.
Senja cerah kini berubah, rintik
gerimis ikut bertakbir. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu yang telah terbuka,
mengucapkan salam. Ternyata Bu Bach, ku kira Aa dan murobinya telah
hadir. Namun... nyatanya... hanya Bu Bach, tiada Aa apalagi murobinya.
Hanya Bu Bach seorang diri.
“Awalnya saya ingin memberikan surat
ini kemarin, tapi saya rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk memberikannya.”
Katanya menyerahkan sebuah amplop dan kemudian pamit undur diri.
Semua hening, bismillah...
perlahan ku sobek amplop itu.
“Assalamualaikum Warahmatullah. Teruntuk hati yang selalu
ku perbincangkan dengan Rabb-ku dalam istikharaku, dalam tiap doaku. Khumairah,
ingatkah engkau dengan syair ini, ‘di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang
suci, tak perlu engkau menyangsikan. Lewat keshalihanmu yang terukir menghiasi
dirimu, tak perlu dengan kata-kata. Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan
perasaanku, namun penantianmu pada diriku jangan salahkan. Kalau memang Kau
pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau pergi ke syurga abadi.
Kini, belumlah saatnya aku membalas cintamu, nantikanku di batas waktu...’
ingatkah Khumairah, dengan syair itu kau menjawab kedatanganku yang pertama.
Belum lama A tau, ternyata itu syair milik Edcoustic ya? Hehe...”
“... Khumairah, ku sempat optimis, akan ada hari di mana
ku gelar sajadahku dan sajadahmu, kita bersujud bersama, doa yang kuucapkan kau
aamiini lirih tepat di shaf belakangku.
Sungguh... ketidakhadiranku bukan berarti ku telah menghapusmu dari
doaku, dari istikharahku apalagi dari hatiku. Namun ada perkara yang lebih
penting. Aku harus mengurus pemakaman ayah salah satu santriku di daerah
Sentul. Dia telah yatim piatu. Ku tau, bisa saja aku serahkan dan mewakilkan
perkara inii ke orang lain. Namun... ku merasa sunah Rasulku lebih utama,
terlebih ini juga perkara tanggung jawabku. Lagipula pantaskah ku melamarmu,
calon ratu bidadari syurga bilamana ku acuhkan perintah Pemilikmu dan
rasulmu?...”
“... di kedatanganku yang pertama, pernah ku katakan
“Tenanglah dan tinggalkanlah aku bila itu untuk Tuhan-mu, jumpai aku setelahnya
karena aku selalu setia menanti dan menunggu...”
“... Khumairah... namun ku tau sebesar apapun cintaku
padamu, kau belum tentu menjadi milik dan hakku. Jikalah benar aku mencintaimu
dan memang aku sangat mencintaimu karena Allah, maka aku akan kembalikan
hatimu, ku serahkan cintaku pada Pemilik cinta, Sang Maha cinta. Biar Dia yang
tentukan kemana cinta ini kan bermuara. Aku mencintaimu dengan cara sederhana,
dengan hijab yang terjaga, dalam belajar hikmah mahabbah, dalam istiqomah yang
tengah beristikharah, dalam istikharah yang tetap berusaha guna istiqomah. Biar
sejuta doaku yang menunjukan kesungguhan...”
“...pintaku, bila kelak aku yang engkau pilih, izinkan
aku mengajak anak yatim ini tinggal bersama di istana keluarga kita. Laki-laki,
lima tahun usianya. Kita bina keluarga bermaghligai bahagia berhias sunah rasul
kita...”
“... namun jikalah memang bukan namaku yang Allah
tuliskan di lauhful mahfuzmu, aku akan ikhlas. Aku akan belajar ikhlas. Dan ku
serahkan pada Allah melalui sang waktu guna membentuk hatiku kembali utuh. Aku
qonaahkan semua pada Rabbku. Siapapun nama yang Allah pilihkan untukmu, semoga
sakinah selalu bersamamu...”
“...Yang selalu memperbincangkanmu dengan Rabbnya dalam
istikharah dan sejuta doanya. Aa Ryan. Ar Ra’yan Jalil”.
♥ ♥
♥
Tak terasa kertas yang kubaca telah
basah. Pecahan embun hangat dari kedua sudut mataku berjatuhan semaunya tanpa
bisa ku cegah.
Faisal Ahmad, dokter muda hafiz
quran dengan pribadi yang begitu bersahaja, sederhana. Ar Ra’yan Jalil,
cinta pertama sang pecinta anak yatim. Aku tersimpuh, luluh. Kian banyak air
mataku yang jatuh. Melihatku terpuruk dokter muda itu bangkit, namun kemudian
ia kembali ke tempatnya semula. Dia beristigfar. Ummi menghampiriku,
beliau membantuku bangun. Aku mohon diri sejenak, masuk ke kamar.
Ku dirikan shalat dua rakaat, istikharah.
“Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu
dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu
yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha
Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara
yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa perkara hati ini, perkaraku
memilih kemana ku labuhkan hati dan cintaku ini baik untukku, bagi agamaku,
kehidupanku dan kesudahan urusanku ini, di waktu dekat atau di masa nanti- maka
takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun
sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku,
bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini di waktu dekat atau di masa nanti- maka
jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku
urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan
ketetapan-Mu itu ya Allah... sungguh... pilihkan dia yang lebih mampu membuatku
mencintai dan dicintaiMu, bukan dia yang membuatku cemburu dan lupa akan
titahku sebagai hamba...” pintaku pada Rabbku.
Alhamdulillah,
hati ini jauh lebih tenang. Ku ambil mushaf al quran, bismillah...
perlahan ku buka sembarang halaman, berharap jawaban dariNya ku temukan di
sana. Surat An Nur, salah satu ayat di lembar yang terbuka, ayat duapuluh enam.
MasyaAllah!
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...” terjemah yang tertulis di sana.
Ah Rabb-ku...
Tiba-tiba ponselku berdering, nomer
yang tak ku kenal tertera di layarnya. Ku hapus air mataku, dan ku jawab
telepon itu. “Assalamualaikum...” lirih suara di sebrang mengawali pembicaraan.
“Wa...
Waalaikumus salam!” aku tertatih.
“Khumairah...
engkau menangis?” tanyanya, astagfirullah!!! Aa Ryan. Ya... Aa Ryan! Aku tak
mampu menjawab.
“Khumairah...
Maaf. Sungguh, maafkan Aa yang tak hadir malam ini. Ada... ada yang harus Aa
sampaikan Khumairah. A sungguh mencintaimu Khumairah. Sungguh. Namun ada
sesuatu yang membuatku kelu. Belum lama tadi, A baru mengetahui jika ayah
santri A mewasiatkan sesuatu pada A. Beliau meminta A guna menikahi puterinya,
kakak dari santri A itu Khumairah!...” suara di sebrang sana semakin lirih,
berat. Lalu berhenti sejenak, Deg! sesak sekali rasanya dada ini.
“Khumairah...
sungguh Aa bingung. Haruskah A penuhi wasiat itu? Haruskah A tunaikan amanah
itu? A telah memusyawarahkannya dengan
Allah, namun A rasa A juga perlu memusyawarahkannya denganmu. Khumairah...
bagaimana pendapatmu? kau masih di sana?
Khumairah... Halo Khumairah?”
Aku
tak mampu menjawab, tersedu ku dibuatnya. Duh...
♥
♥ ♥
Ku
ambil secarik kertas, ku tak sanggup mengungkapkannya secara langsung. Duh!
Jangan mengalir! Ku hapus titik-titik yang terus merembes di kedua sudut
mataku. “Assalamualaikum warahmatullah” baru satu kalimat ku tulis, namun
hatiku kian meringis. Sesak. Keputusan yang berat.
“Ku
tulis surat ini beriring untaian doa sederhana, semoga Allah selalu menjagamu
dan hatimu. Kita sama-sama mengetahui, wanita dicintai dan dinikahi karena
empat perkara. Kecantikan wajah dan raga, nasab keturunan, kedudukan harta dan
agama yang ada pada dirinya. Sedang keempat hal itu dalam diriku masih jauh
dari baik, apalagi sempurna. Fah ndak
seshaliha yang engkau kira. Namaku memang Khumairah, nama panggilan sayang
Rasul untuk isterinya, Aisyah. Namun aku bukan Aisyah. Akhlak dan ilmuku begitu
fakir, hati ini berlumur dosa. Hitam. Pekat...”
“...
Maaf, bila Fah begitu pengecut, hanya melalui kertas inilah Fah mampu
memberikan jawaban. Hati yang Fah pilih adalah hati yang mampu membuat Fah
lebih khusyu bukan cemburu. Bila aku memilihmu, ku khawatir tak mampu
mendampingimu memenangkan cinta Rabb-mu. Aku hanya diri yang begitu biasa, aku
khawatir ku tak bisa...”
“...
Penuh wasiat dan amanah itu. Mungkin ini caraNya memberimu pelabuhan hati yang
teristimewa. Mungkin Aisyah yang kau cari terdapat pada sosoknya dan mungkin
memang dialah yang mampu dan bisa mendampingimu.”
“...
Jikapun kita harus melupakan rasa itu semoga bisa dilupakan dengan cara yang
baik, tidak perlu terputusnya silahturahmi dan ukhuwah diantara kita. Jika
persaudaraan yang terjalin dimulai dengan cara yang baik, alangkah sayangnya
jika harus kandas dan terputus hanya karena asbab perasaan. Meski perasaan dan
rasa itu belum halal, apapun yang terjadi, dalam Islam kita adalah saudara.
Salam santun dan salam ukhuwah. Sebaris doa, semoga engkau bahagia. Syarifah al
Khumairah”.
♥ ♥ ♥
Alunan takbir berarakkan ke angkasa menumbus
tirai langit, mengagungkan asma Rabbku. Tanganku gemetar, hatiku bergetar. Bismillah,
semoga ini bukan langkah yang salah. “Tolong sampaikan surat ini ke Aa Ryan!” pintaku
pada dokter muda itu.
“Maksudmu dik?” Dia masih belum
mengerti.
Taburan butiran gemintang di langit,
kian semerbakan malam kemenangan. “Bismillah... Fah mudahkan langkahmu mengetuk
pintu hati Fah dan orangtuaku. Engkau yang ku pilih. Siapkan dirimu akan
kekuranganku, insyaAllah akupun siap menerimamu apa adanya, menerimamu karena
iman yang ada di hatimu. InsyaAllah aku siap dan aku ikhlas menemanimu di medan
kehidupan ini karena Allah...” lirihku. Takbir dan tabuhan bedug meriah
mengiringi. Memang banyak kuntum-kuntum cinta yang bertumbuh di taman hatiku,
namun ku kan mekarkan satu diantaranya guna mengimamiku di tiap ku bersujud,
satu kuntum yang mampu menambah semerbak cintaku pada Rabb-ku.
Mendengar perkataanku, semua
bertahmid dan bertakbir memuji asma Rabbku. Dan dia, ya... dia yang ku pilih, Faisal Ahmad segera tersungkur dalam sujud
syukurnya.
♥ ♥ ♥

Tidak ada komentar:
Posting Komentar